Sunday, August 24, 2014

Problematika SDM Perbankan Syari'ah

Problematika SDM Perbankan Syari'ah?

Tidak sedikit yang menganggap bahwa bank syari'ah itu substansinya sama seperti bank konvensional. Banyak juga yang mengistilahkan bank syari'ah merupakan "anak tiri" dari bank konvensional. Bahkan ada pula yang mengatakan bahwa bank syari'ah merupakan wajah baru dari produk neo-kapitalis.
Perbankan syari'ah tidak hanya berbicara mengenai istilah-istilah yang digunakan dalam menjalankan fungsi bank. Bank syari'ah tidak hanya berbicara mengenai pelayanan yang dimulai dengan ucapan salam, pakaian rapi dan berkerudung bagi staf perempuannya. Bank syari'ah tidak hanya berbicara mengenai istilah bunga yang dipoles serta dikemas dengan wajah syar'i.
Berbicara mengenai perbankan syari'ah, harus juga berbicara mengenai nilai-nilai Islam yang diterjemahkan dalam sebuah sistem perbankan. Berbicara perbankan syari'ah, harus juga berbicara mengenai proses eksternalisasi nilai-nilai qur'ani yang kemudian di internalisasi dalam mekanisme perbankan. Berbicara perbankan syari'ah, juga harus berbicara mengenai ketauladanan Rasulullah SAW dalam menjalankan aktivitas muamalah. Setiap mekanisme perbankan yang lahir dari nilai-nilai islam, tidak bisa lepas dari substansi nilai tersebut. Perbankan syari'ah tidak seperti bank konvensional yang ketika SOP telah dijalankan sesuai dengan apa yang telah ditetapkan (regulasi), secara otomatis mekanisme yang dijalankan telah benar. Dibalik SOP yang ada dalam perbangkan syari'ah, ada nilai-nilai ukhrowi yang harus dihayati. SOP hanya merupakan alat bantu, agar kita bisa merasakan betul hikmah yang ada dalam sebuah tatanan nilai kesyari'ahan sebuah sistem lembaga keuangan publik.
Untuk mewujudkan sebuah sistem lembaga keuangan publik yang bisa mencerminkan nilai-nilai kesyari'ahan, tidak bisa selesai hanya dengan UU perbankan syari'ah, kelengkapan sarana untuk mengontrol mekanisme perbankan berbasis prinsip syari'ah seperti DSN pada tataran nasional dan DPS pada tataran wilayah. Untuk mewujudkan sebuah sistem lembaga keuangan publik berprinsip syari'ah, harus didukung oleh seluruh stakeholder. Mulai dari pemerintah sebagai penanggung jawab regulasi, DSN, pengelola, hingga masyarakat yang sadar betul akan hikmah yang terkandung dalam nilai-nilai kesyari'ahan.

Problematika SDM Perbankan Syari'ah dari Sisi Rekrutmen

Sebelum memaparkan mengenai problematika SDM Perbankan Syari'ah, mari kita amati terlebih dahulu gambar di bawah!
Problematika SDM Perbankan Syari'ah

Gambar di atas diambil dari website remsi sebuah bank syari'ah swasta, terkait dengan pengumuman lowongan kerja pada banknya. Kualifikasi seperti yang tertera di atas, tidak hanya pada satu atau dua bank saja. Bisa dikatakan hampir seluruh bank berbasis syari'ah, kualifikasinya mirip dengan apa yang tertera pada gambar di atas. Jika kita amati, kualifikasi terkait dengan latar belakang pendidikan tidak ada pengkhususan untuk SDM dengan latar belakang pendidikan Ekonomi Islam / Ekonomi Syari'ah. Padahal, sebagaimana telah disinggung sebelumnya, untuk bisa melahirkan sebuah sistem lembaga keuangan publik dengan prinsip syari'ah seluruh pihak terkait harus memiliki frekuensi yang sama, karena sistem keuangan berbasis syari'ah tidak hanya menyoal SOP. SDM yang lahir dari lembaga pendidikan dengan jurusan ekonomi syari'ah pun belum tentu menguasai betul prinsip-prinsip syari'ah yang dipraktekkan dalam dunia perbankan. Apalagi SDM yang tidak dicetak untuk kemampuan seperti itu? SDM yang baik dalam perbankan syari'ah, tidak bisa lahir hanya dengan proses pendidikan singkat 1 bulan, 3 bulan, atau 6 bulan saja.
Permasalahan ini marak terjadi mungkin karena adanya ketidak percayaan dunia kerja akan lulusan jurusan yang linear dengan kebutuhan pekerjaan, atau mungkin juga karena belum semua daerah memiliki lembaga perguruan tinggi dengan jurusan ekonomi syari'ah, atau bisa juga karena budaya dunia kerja di negara ini memang terbiasa menerima SDM yang tidak sesuai antara kebutuhan pekerjaan dengan latar belakang pendidikan.
Oleh karena itu, akan lebih baik jika seluruh pihak terkait bisa segera mengevaluasi, kemudian bersinergi satu dengan lainnya, agar lulusan perguruan tinggi bisa diterima di dunia kerja sesuai dengan latar belakang pendidikan.

....Baca Selengkapnya

Perkembangan Kegiatan Usaha Perbankan Syariah Per Propinsi

Perkembangan Kegiatan Usaha Perbankan Syariah secara nasional pada umumnya mengarah pada trend peningkatan yang bisa dikatakan signifikan. Penjelasan mengenai ini sudah diuraikan pada artikel "". Begitu juga dengan penjelasan mengenai peluang kerja di perbankan syariah, telah diuraikan pada artikel berjudul  "Peluang Kerja di Bank Syari'ah". Akan tetapi, daerah mana yang memberikan kontribusi yang paling signifikan terhadap perkembangan kegiatan usaha perbankan syariah secara nasional? Tentu kita harus merinci untuk kemudian dibandingkan satu dengan lainnya agar nantinya bisa diketahui propinsi mana yang memberikan kintribusi paling sigifikan, dan propinsi mana yang aktivitas perbankan syari'ahnya kurang bergairah.

Data Perkembangan Kegiatan Usaha Perbankan Syariah Per Propinsi

Mari kita amati grafik mengenai Perkembangan Kegiatan Usaha Perbankan Syariah Per Propinsi di bawah ini!
Grafik Perkembangan Kegiatan Usaha Perbankan Syariah Per Propinsi

Secara regional, perkembangan perbankan syariah yang cukup pesat terjadi di sejumlah daerah. Hal tersebut tercermin dari pertumbuhan kegiatan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) dan atau penyaluran pembiayaan yang cukup tinggi antara lain di beberapa propinsi di kawasan Kalimantan dan kawasan Sulawesi, Maluku dan Papua yang melebihi laju pertumbuhan secara nasional. Selain itu, beberapa daerah di kawasan Jawa-Bali juga menunjukkan pertumbuhan yang cukup tinggi. Perkembangan tersebut menunjukkan peluang pengembangan perbankan syariah yang cukup besar di luar ibukota negara, meskipun DKI Jakarta dengan skala aktivitas ekonominya, tetap menjadi target utama pengembangan usaha perbankan syariah dengan pangsa DPK dan pembiayaan terhadap industri masing-masing mencapai 45,6% dan 39,9%.

....Baca Selengkapnya

Peluang Kerja di Bank Syari'ah

Peluang Kerja di Bank Syariah - sebagai pengantar

Peluang kerja di bank syariah merupakan tulisan penyemangat setelah sempat vakum menulis beberapa waktu lalu. Tulisan ini terinspirasi dari tulisan sebelumnya mengenai  pertumbuhan bank syari'ah di Indonesia. Berbicara mengenai peluang kerja, tentu tidak bisa lepas dari pembahasan mengenai lembaga yang membutuhkan tenaga kerja. Dalam hal ini, lembaga yang akan kita kaji tentu lembaga perbankan syari'ah. Dalam UU perbankan syari'ah dikatakan bahwa yang dimaksud Bank Syariah adalah
"Bank yang menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan Prinsip Syariah dan menurut jenisnya terdiri atas Bank Umum Syariah dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah."
Fokus utama yang akan kita kaji adalah lebaga keuangan yang berbasis pada prinsip syari'ah, baik itu BUS (Bank Umum Syari'ah), UUS (Unit Usaha Syari'ah), maupun KJKS (Koperasi Jasa Keuangan Syari'ah). Karena semuanya, merupakan bahan utama yang nantinya bisa menjadi dasar untuk melihat kebutuhan dunia kerja akan SDM yang memiliki kualifikasi kemampuan pada dunia perbankan syari'ah.

Peluang Kerja di Bank Syari'ah Berdasarkan Data Laporan Terakhir

Data yang digunakan dasar penulisan ini adalah laporan perkembangan bank syari'ah yang dipublikasikan oleh BI. Hingga saat tulisan ini disusun, laporan pertubuhan bank syari'ah yang telah dipublikasikan baru sampai pada tahun 2012. Sebelum mengkaji lebih jauh mengenai peluang kerja di bank syari'ah, mari kita amati tabel di bawah ini!
Tabel Peluang Kerja di Bank Syari'ah

Pada tahun 2012, kantor bank syari'ah secara nasional bertambah sebanyak 565 kantor dari yang mulanya sejumlah 2101 pada tahun 2011 menjadi berjumlah 2666 kantor pada tahun 2012. Pertumbuhan tersebut juga terjadi pada tahun sebelumnya. Dan bisa dikatakan, trend pertumbuhan bank syari'ah masih akan terus meningkan seiring dengan lahirnya BUS dan UUS baru.

Peluang Kerja di Bank Syari'ah - sebagai sebuah kesimpulan

Dari informasi di atas, bisa ditarik kesimpulan bahwa kebutuhan akan SDM yang memiliki kualifikasi untuk ditempatkan di perbankan syari'ah setiap tahun bertambah secara signifikan. Perlu diketahui bahwa prinsip ekonomi syari'ah tidak hanya diterapkan di BUS dan UUS. Prinsip ekonomi syari'ah juga dijalankan dalam KJKS seperti BMT serta koperasi lainnya yang berprinsip syari'ah. Dilihat dari regulasi pendiriannya, KJKS relatif lebih mudah untuk didirikan dibandingkan dengan BUS dan UUS. Sehingga, peluang pentumbuhannya pun relatif lebih besar dibandingkan dengan lembaga keuangan BUS dan UUS. Ini artinya, peluang kerja didunia lembaga keuangan yang berbasis syari'ah, sangat tinggi serta berindikasi akan terus bertambah seiring waktu dan permintaan pasar. Selanjutnya, mari kita kaji Perkembangan Kegiatan Usaha Perbankan Syari'ah Per Propinsi. Melalui artikel tersebut, kita bisa melihat propinsi mana yang kegiatan usaha perbankan syari'ahnya paling banyak. Untuk melihat grafik kegiatan usaha perbankan syari'ah per propinsi, silahkan baca pada artikel "Perkembangan Kegiatan Usaha Perbankan Syariah Per Propinsi".
....Baca Selengkapnya

Saturday, July 26, 2014

Pertumbuhan Bank Syariah di Indonesia 2014

Pertumbuhan Bank Syariah di Indonesia – sebuah pengantar

Sebagaimana yang telah paparkan sebelumnya dalam artikel Visi Misi Bank Syari’ah Indonesia pada paragraf terakhir bahwa tingkat pertumbuhan bank syari’ah di Indonesia, menurut data terakhir menyebutkan bahwa dilihat dari sisi aset, pertumbuhannya mencapai ±34% dibanding dengan tahun sebelumnya. Dari sisi pembiayaan, pertumbuhannya mencapai ±44% dengan NPF Gross (BUS dan UUS) yang terkendali. Dan ini berati bahwa kondisi bank syari’ah di Indonesia saat ini sangat baik, dengan tren pertumbuhan yang terus meningkat. Data terbaru yang ada pada saat tulisan ini dibuat yaitu laporan tahunan perkembangan perbankan syari’ah tahun 2012. Seperti apa rinciannya? Mari kita elaborasi.

Pertumbuhan Bank Syariah di Indonesia – sebuah kajian

Pada tahun 2012 merupakan masa-masa yang bisa dibilang masa pemulihan setelah krisis global. Dilihat dari perkembangannya, diperkirakan bahwa perekonomian tahun 2013 mengarah pada pertumbuhan yang baik. Terlebih untuk kinerja perekonomian Indonesia dengan tingkat konsumsi domestik relatif tinggi dan kelas menengah yang meningkat serta ditunjang oleh kondisi makro ekonomi yang relatif terjaga dengan baik, merupakan beberapa faktor penyebab perekonomian nasional tidak terlalu terpengaruh oleh krisis perekonomian global. Begitu pula dengan perbankan syariah nasional, relatif tidak begitu signfikan mengalami dampak krisis ekonomi global pada awal tahun 2012 sejalan dengan fokus perbankan Indonesia yang lebih tertuju kepada pasar domestik yang masih besar, serta potensi pangsa perbankan syariah yang masih tinggi di Indonesia, dengan pangsa pasar sampai dengan akhir tahun 2012 telah mendekati 5%. Berikut adalah kutipan dari laporan perkembangan perbankan syari’ah, yang di download dari official website BI:
Pertumbuhan Bank Syariah di Indonesia 2014
Sumber: diambil dari bundel laporan tahunan BI terkait perkembangan perbankan syari’ah
"Sepanjang tahun 2012, kinerja industri perbankan syariah nasional yang masih didominasi struktur asetnya sekitar ± 98% oleh Bank Umum Syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah (UUS) relatif cukup baik, tercermin dari : (i) fungsi intermediasi berada pada tingkat yang optimal dengan ratarata FDR sebesar 97,16%; (ii) tingkat kecukupan modal (CAR) masih jauh di atas minimum 8% dengan rata-rata CAR sebesar ±15,17%; dan (iii) tingkat pembiayaan bermasalah (Non Performing Financing/NPF) masih di bawah 5% dengan rata-rata sebesar 2,72% dan bahkan untuk posisi Desember 2012 mencapai 2,22%. Walaupun begitu, dari sisi pertumbuhan aset, terjadi perlambatan aset industri yang relatif signifikan pada bulan Maret sampai dengan bulan September 2012, lebih karena penurunan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang cukup tajam. Penurunan ini disebabkan antara lain karena penarikan dana simpanan milik pemerintah (Kementerian Agama) dari bank syariah yang cukup besar, dimana dialihkan ke Sukuk Dana Haji Indonesia guna memenuhi target pendanaan pembangunan. Namun pada bulan-berikutnya, DPK dan aset bank syari'ah mengalami peningkatan kembali. Dengan demikian, pelambatan pertumbuhan industri perbankan syariah lebih akibat kondisi domestik. Perkembangan perbankan syariah selama satu tahun terakhir cukup menggembirakan, dimana total asetnya meningkat menjadi Rp. 199,72 triliun dan melebihi proyeksi moderat tahun sebelumnya sebesar Rp.187,2 triliun."
Dari kutipan di atas bisa ditarik kesimpulan bahwa bank syari’ah memiliki daya imunitas yang baik terhadap pengaruh-pengaruh fluktuasi perekonomian internasional. Sehingga goncangan yang terjadi pada perekonomian dunia, bisa di redam oleh sistem perbankan syari’ah yang kemudian memberikan ketenangan kepada para nasabah. Demikian artikel mengenai Pertumbuhan Bank Syari'ah di Indonesia, semoga bisa mengambil manfaat dari tulisan ini.

....Baca Selengkapnya

Thursday, July 24, 2014

VISI dan MISI Bank Syariah Indonesia

VISI dan MISI Bank Syariah Indonesia – sebuah pengantar

Bank Syariah merupakan topik yang hingga saat ini ramai diperbincangkan. Bahkan, kian hari kian meningkat grafiknya. Sub-topiknya pun beragam. Mulai dari prinsip kesyari’ahannya, hingga hal-hal menyangkut implementasi pada tataran pelaksanaan. Ditengah-tengah dialektika mengenai perbankan Syariah, dalam konteks Indonesia pertanyaanya adalah apa Visi dan Misi Bank Indonesia sebagai bank sentral terkait dengan dunia perbankan Syariah?

VISI dan MISI Bank Syariah Indonesia – sebuah kajian

VISI dan MISI Bank Syariah Indonesia
Sumber: diambil dari bundel laporan tahunan BI terkait perkembangan perbankan syari’ah
Pada gambar di atas tertulis bawa:

Visi BI terkait Bank Syari’ah Indonesia adalah

“Terwujudnya sistem perbankan syariah yang sehat, kuat dan istiqamah terhadap prinsip syariah dalam kerangka keadilan, kemaslahatan dan keseimbangan, guna mencapai masyarakat yang sejahtera secara material dan spiritual (falah)”

Misi BI terkait Bank Syari’ah Indonesia adalah

“Mewujudkan iklim yang kondusif untuk pengembangan perbankan syariah yang kompetitif, efisien dan memenuhi prinsip syariah dan prinsip kehati-hatian, yang mampu mendukung sektor riil melalui kegiatan berbasis bagi hasil dan transaksi riil dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi nasional”
Saya berharap melalui artikel VISI dan MISI Bank Syariah Indonesia, diskusi-diskusi mengenai dunia perbankan syari’ah bisa lebih terarah, serta memberikan kontribusi positif atas pertumbuhan dunia perbankan syari’ah di Indonesia. Baik pada tataran prinsip-prinsip kesyari’ahannya, hingga pada wilayah implementasinya.
Berikutnya, kami akan membahas mengenai laporan tingkat pertumbuhan bank syari’ah di Indonesia. Data terakhir menyebutkan bahwa dilihat dari sisi aset, pertumbuhannya mencapai ±34% dibanding dengan tahun sebelumnya. Dari sisi pembiayaan, pertumbuhannya mencapai ±44% dengan NPF Gross (BUS dan UUS) yang terkendali. Dan ini berati bahwa kondisi bank syari’ah di Indonesia saat ini sangat baik, dengan tren pertumbuhan yang terus meningkat. Selebihnya, akan dipaparkan dalam artikel Pertumbuhan Bank Syariah di Indonesia 2014.
....Baca Selengkapnya